Kamis, 29 April 2010

Membangun Bisnis dengan Nilai-Nilai Syari'ah

Nama : Putri Juniarti
Kelas : 2 DD 03
NPM : 30208972

MEMBANGUN BISNIS DENGAN NILAI-NILAI SYARIAH

Sifat jujur merupakan sifat para nabi dan rasul yang diturunkan Allah Swt kepada Nabi dan rasul dengan metode syariah yang bermacam-macam, tetapi saling menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran. Ulama terkemuka abad ini yaitu Syaikh Al-Qardhawi mengatakan bahwa diantara nilai transaksi yang paling penting dalam kegiatan bisnis adalah al-amanah (kejujuran). Karena kejujuran merupakan puncak dari moralitas iman dan karakteristik yang paling menonjol dari orang yang beriman bahkan kejujuran merupakan karakteristik yang dimilki oleh para nabi. Tanpa kejujuran kehidupan agama tidak akan berdiri tegak dan kehidupan dunia tidak akan berjalan baik. Ada empat hal yang menjadi key success factors (KSF) dalam mengelola suatu bisnis, agar mendapat celupan nilai-nilai moral yang tinggi. Untuk memudahkan mengingat, kita singkat dengan SAFT, yaitu:

1. Benar dan jujur, yaitu seorang pemimpin selalu berprilaku benar dan jujur dalam kepemimpinannya,
2. Terpercaya, kredibel yaitu dapat dipercaya, bertanggung jawab, dan kredibel, juga merupakan keinginan untuk untuk memenuhi sesuatu sesuai dengan ketentuan. Diantara nilai yang terkait dengan kejujuran dan melengkapinya adalah amanah.
3. Cerdas yaitu mempunyai intelektual, kecerdikan atau kebijaksanaan.
4. Komunikatif yaitu komunikatif dan argumentatif. Berbicara dengan orang lain dengan sesuatu yang mudah dipahaminya, berdiskusi dan melakukan presentasi bisnis dengan bahsa yang mudah dipahami sehingga orang tersebut mudah memahami pesan bisnis yang ingin kita sampaikan.
Keempat KSF ini merupakan sifat-sifat Nabi Muhammad Saw yang sudah sangat dikenal tapi masih jarang diimplementasikan khususnya dalam dunia bisnis.


CIRI KHAS BISNIS SYARI’AH
Bisnis syariah merupakan implementasi/perwujudan dari aturan syari’at Allah. Sebenarnya bentuk bisnis syari’ah tidak jauh beda dengan bisnis pada umumnya, yaitu upaya memproduksi/mengusahakan barang dan jasa guna memenuhi kebutuhan konsumen. Namun aspek syariah inilah yang membedakannya dengan bisnis pada umumnya. Sehingga bisnis syariah selain mengusahakan bisnis pada umumnya, juga menjalankan syariat dan perintah Allah dalam hal bermuamalah. Untuk membedakan antara bisnis syariah dan yang bukan, maka kita dapat mengetahuinya melalui ciri dan karakter dari bisnis syariah yang memiliki keunikan dan ciri tersendiri. Beberapa cirri itu antara lain:
1. Selalu Berpijak Pada Nilai-Nilai Ruhiyah. Nilai ruhiyah merupakan kesadaran bagi setiap manusia akan eksistensinya sebagai makhluk ciptaan Allah SWT yang harus selalu mengingat kepada-Nya dalam wujud ketaatan di setiap tarikan nafas hidupnya. Ada tiga aspek paling tidak nilai ruhiyah ini harus terwujud , yaitu pada aspek : (1) Konsep, (2) Sistem yang di berlakukan, (3) Pelaku (personil).
2. Memiliki Pemahaman Terhadap Bisnis yang Halal dan Haram. Pelaku bisnis syariah harus mengetahui benar fakta-fakta terhadap praktek bisnis yang Sahih dan yang salah. Disamping juga harus paham dasar-dasar nash yang dijadikan hukumnya.
3. Benar Secara Syar’iy Dalam Implementasi yaitu ada kesesuaian antara teori dan praktek, antara apa yang telah dipahami dan yang di terapkan. Sehingga pertimbangannya tidak semata-mata untung dan rugi secara material.
4. Berorientasi Pada Hasil Dunia dan Akhirat yaitu bisnis yang dilakukan selalu untuk mendapat keuntungan sebanyak-banyak yaitu dapat berupa harta, dan ini di benarkan dalam Islam
5. Seorang Muslim yang sholeh tentu bukan hanya itu yang jadi orientasi hidupnya. Namun lebih dari itu yakni kebahagiaan abadi di yaumil akhir. Oleh karenanya. Untuk mendapatkannya, dia harus menjadikan bisnis yang dikerjakannya itu sebagai ladang ibadah dan menjadi pahala di hadapan Allah.



Perlunya memahami aspek penting dalam memulai usaha
Memulai bisnis bagi kebanyakan orang bukanlah hal yang mudah. Hal yang klasik, banyak pertimbangan di sana sini sehingga tak jarang membuat orang urung memulai bisnis. Semestinya memulai bisnis tidak menjadi salah satu sumber ketakutan bagi setiap orang. Untuk menghilangkan ketakutan dalam memulai bisnis, seseorang bisa membuat persiapan bisnis yang matang sehingga dapat menjalaninya dengan optimistis.
dengan memahami 9 aspek penting sebelum memulai usaha, yaitu sebagai berikut :

1. Memahami konsep produk atau jasa secara baik adalah pemahaman terhadap konsep produk atau jasa yang akan menjadi bisnis inti. Kita perlu memahami bukan hanya secara teknis produksi tetapi juga pasar dan prospek mulai daripada lingkungan yang terkecil kepada lingkungan yang terbesar.

2. Membuat visi dan misi bisnis yakni setiap orang yang mau memulai bisnis harus mengetahui visi dan misi yang akan menjadi panduan seseorang untuk tetap fokus kepada tujuan bisnis dan organisasi yang awal.

3. Perlunya winning, positive dan learning attitude untuk menjadi sukses yaitu sikap mental yang merupakan kunci keberhasilan atas usaha anda selain daripada pemahaman usaha anda. there is no over night success sesuatu yang harus dicamkan daripada setiap calon “entrepreneur” karena dibutuhkan waktu, sikap tidak menyerah, proses belajar secara kesinambunga, dan melihat permasalahan secara positif yang tidak membuat anda menjadi patah semangat.

4. Membuat perencanaan dan strategi bisnis yang efektif akan menghindari usaha daripada risiko bisnis dan keuangan yaitu berupa asumsi-asumsi seperti kapasitas produksi, tingkat utilisasi produksi, proyeksi kenaikan harga dan biaya dan aspek lainnya.

5. Pengetahuan dasar manajemen, organisasi dan sistem akan menghindari usaha daripada risiko manajemen yaitu setiap usaha dari yang paling kecil sekalipun membutuhkan manajemen yang baik untuk memastikan proses pemasaran, produksi, distribusi dan penjualan berlangsung dengan baik. Sistem manajemen yang buruk akan mengakibatkan adanya biaya yang tidak perlu seperti bahan baku yang terbuang, pekerja yang tidak produktif karena pengawasan yang tidak efektif dan deskrips.
6. Optimalisasi sumber daya manusia maka 50% usaha Anda sudah berhasil.
Sumber Daya Manusia atau SDM merupakan salah satu kunci keberhasilan usaha yang paling penting.

7. Mengapa kreativitas, kepemimpinan dan proses pembuatan keputusan sangat penting?
Kreativitas juga akan sangat membantu anda untuk menyesuaikan produk-produk anda agar dapat diterima oleh pasar dan juga melihat berbagai peluang dalam membangun usaha anda. Kepemimpinan sangat penting dalam krisis untuk membuat setiap pegawai dan semua orang yang terlibat dalam usaha anda percaya bahwasanya anda tidak panik, menjadi tempat last resort solusi atas semua permasalahan dan menjadi panutan. Proses Pembuatan Keputusan akan membantu anda dalam mencari alternatif solusi dan memilih yang terbaik untuk usaha dan organisasi anda.
8. Pengetahuan dasar pengelolaan keuangan dan pembiayaan
Pemahaman atas aspek ini adalah sangat penting dalam perkembangan usaha anda. Seringkali produksi terganggu karena pengelolaan keuangan yang tidak baik seperti kekurangan dana untuk pembelian bahan baku, alat-alat produksi dan lainnya. struktur modal, aset perusahaan, penyertaan modal dan lainnya.

9. Pemasaran, pelayanan dan product brand yakni pemasaran yang merupakan ujung tombak keberhasilan penjualan produk atau jasa. Sebaik apapun produk atau jasa tanpa pemasaran yang baik maka akan sangat sukar untuk meningkat penjualan dan keuntungan usaha. Di lain pihak tanpa pelayanan yang baik kepada pelanggan maka akan sangat sukar suatu usaha untuk memperoleh pelanggan yang loyal yang merupakan kunci perkembangan usaha.

Senin, 15 Maret 2010

Tugas Pemasaran Usaha Syariah

Nama : Putri Juniarti
Kelas : 2 DD 03
NPM : 30208972

PEMASARAN USAHA SYARIAH

Pemasaran usaha syariah adalah sebuah disiplin bisnis strategi yang mengarahkan pada proses penciptaan, penawaran dan perubahan nilai. Dalam keseluruhan prosesnya sesuai dengan akad dan prinsip-prinsip muamalah dalam Islam. Maksudnya dalam seluruh proser pemasaran syariah baik proses penciptaan, proses penawaran, maupun proses perubahan nilai tersebut tidak boleh ada yang bertentangan dengan prinsip-prinsip syariat. Prinsip-prinsip syari’ah harus secara strategis agar bisa diterima oleh semua kalangan masyarakat, bukan hanya dari kalangan muslim saja. Konsep syari’ah tidak hanya di terapkan dalam dunia perbankan saja, tetapi juga merambah ke dalam dunia bisnis lainnya.
Konsep pemasaran usaha syariah tidak berbeda jauh dengan konsep pemasaran yang biasa dipakai. Konsep pemasaran yang dikenal saat ini, pemasaran sebagai sebuah ilmu atau seni yang mengarah pada proses penciptaan, penyampaian, dan pengkomunikasian value kepada para konsumen. Selain itu juga menjaga hubungan dengan para stakeholders. Pemasaran syariah mengajarkan pemasar untuk jujur pada konsumen atau orang lain atau masyarakat. Nilai-nilai syariah mencegah pemasar agar tidak terjerumus pada kelirumologi karena terdapat nilai-nilai yang harus dijunjung oleh seorang pemasar.
Pemasaran syariah tidak hanya sebuah marketing yang ditambahkan dengan ketentuan syariah karena terdapat nilai-nilai lebih pada proses pemasaran syariah, tetapi lebih jauhnya pemasaran mempunyai peran dalam syariah. Pemasaran berperan dalam syariah dapat diartikan sebagai perusahaan yang berbasis pada hokum syariah yang diharapkan dapat bekerja dan bersikap profesional dalam kehidupan di dunia bisnis, karena dengan adanya sikap yang profesionalitas dapat menumbuhkan kepercayaan dari kosumen. Syariah berperan dalam proses pemasaran mengandung makna suatu pemahaman tentang pentingnya nilai-nilai etika dan moralitas dalam proses pemasaran, sehingga diharapkan perusahaan tidak akan menjalankan bisnisnya demi keuntungan pribadi saja tetapi juga harus berusaha untuk menciptakan dan menawarkan serta dapat merubah values kepada para stakeholders sehingga perusahaan tersebut dapat menjaga keseimbangan laju bisnisnya untuk menjadi bisnis yang sustainable.
Secara teknis Pemasaran usaha syariah, salah satunya harus terdapat pemasaran syariah yang strategis untuk memenangkan mind-share dan syariah marketing value untuk memenangkan heart-share. Syariah marketing strategy melakukan segmenting, targeting dan positioning market dengan melihat keadaan pertumbuhan pasar, keunggulan kompetitif, dan situasi persaingan sehingga dapat menentukan potensi pasar yang baik agar dapat memenangkan mind-share. Selanjutnya syariah marketing value melihat brand sebagai nama baik yang menjadi identitas seseorang atau suatu perusahaan, agar perusahaan yang mendapatkan best customer service dalam bisnisnya dapat mampu mendapatkan heart-share.
Menurut M. Syakir Sula dan Hermawan Kertajaya, ada 4 karakteristik yang terdapat pada pemasaran syariah adalah sebagai berikut :
1. Ketuhanan (rabbaniyah)
Sifat yang religius merupakan salah satu dari ciri khas dalam pmasaran usaha syariah. Jiwa seorang syariah marketer meyakini bahwa hukum yang paling adil adalah hukum-hukum yang syariat yang bersifat berdasarkan ketuhanan, sehingga dengan demikian diharapkan akan mematuhinya dalam setiap melakukan aktivitas pemasaran. Dalam setiap langkah, aktivitas dan kegiatan yang dilakukan harus berdasarkan kepada syariat Islam. Seorang syariah marketer meskipun ia tidak mampu melihat Allah, ia akan selalu merasa bahwa Allah senatiasa mengawasinya. Sehingga ia akan mampu untuk menghindari dari segala macam perbuatan yang menyebabkan orang lain tertipu atas produk-produk yang dijualnya. Sebab seorang syariah marketer akan selalu merasa bahwa setiap perbuatan yang dilakukan akan dihisab.
2. Etis (akhlaqiyyah)
Dalam melakukan aktivitas atau aktivitas pemasaran usaha syariah harus mengutamakan masalah akhlak. Pemasaran syariah merupakan konsep pemasaran yang sangat menguatamakan pada nilai-nilai moral dan etika tanpa peduli adanya perbedaan agama karena bersifat universal.
3. Realistis (al-waqi'yyah)
Pemasaran usaha syariah bukan konsep yang eksklusif, fanatis, anti modernitas, dan kaku, tetapi konsep pemasaran yang sifatnya fleksibel. Syariah marketer bukanlah berarti para pemasar itu harus berpenampilan ala bangsa Arab dan mengharamkan dasi. Namun syariah marketer harus berpenampilan bersih, rapi dan bersahaja apapun model atau gaya berpakaian.
4. Humanistis (insaniyyah)
Selain ketiga sifat diatas, pemasaran usaha syariah juga mempunyai sifat humanitas universal. Humanistis mempunyai arti bahwa syariah diciptakan untuk manusia agar derajatnya terangkat, sifat kemanusiaannya terjaga dan terpelihara, serta sifat-sifat kehewanannya dapat terkekang dengan panduan syariah. Syariah Islam adalah syariah humanistis, diciptakan untuk manusia sesuai dengan kapasitasnya tanpa membedakan antara ras, warna kulit, kebangsaan dan status. Sehingga syariah marketing bersifat univers.
Ada beberapa pendapat yang mengatakan bahwa pasar syariah merupakan pasar yang bersifat emosional sedangkan pasar konvensional adalah pasar yang rasional. dari Artinya, bahwa orang-orang tertarik untuk melakukan kegiatan bisnis pada pasar syariah karena alasan emosional yang berhubungan dengan keagamaan dan bukan dikarenakan ingin mendapatkan keuntungan yang bersifat finansial yang menurut sebagian pihak- dikatakan sebagai sesuatu yang bersifat rasional. Tapi,sebaliknya pada pasar konvensional, orang ingin mendapatkan keuntungan finansial sebesar-besarnya tanpa memperdulikan bisnis yang digelutinya memiliki kemungkinkan menyimpang atau malah bertentangan dengan ajaran Islam dan cara-cara yang dipergunakan itu sudah benar. Orang yang berada dalam kategori pasar emosional biasanya lebih kritis, lebih teliti dan lebih cermat dibandingkan dengan orang yang termasuk dalam kategori pasar konvensional. Dalam membandingkan dengan lembaga keuangan konvensional yang selama ini digunakan sebelum menentukan pilihan ke pasar syariah.
Konsep marketing syariah baru berkembang seiring berkembangnya ekonomi syariah. Beberapa perusahaan dan bank khususnya yang berbasis syariah telah menerapkan konsep ini dan telah mendapatkan hasil yang positif. Konsep ini memprediksikan pemasaran syariah akan terus berkembang dan dipercaya masyarakat karena nilai-nilainya yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan masyarakat yaitu kejujuran. Saat ini banyak penerapan konsep syariah karena konsep syariah mempunyai kekuatan berupa prinsip-prinsip yang tidak berubah-ubah yang sejalan dengan fitrah setiap manusia dan beberapa prinsip itu adalah sebagai berikut :
1. Bisnis yang berdasarkan pada ketentuan syariat akan selalu menempatkan dan mengimbangi antara kepentingan dunia dan akhirat, sehingga manusia tidak semata melihat dari keinginannya dalam mencapai kepuasaan materi tetapi juga melihat keberhasilan di dunia ini sebagai pedoman untuk menuju kebahagian di akhirat.
2. Bisnis syariah lebih berwawasan terhadap lingkungan dikarenakan dalam melakukan aktivitas atau kegiatan tidak boleh melakukan kerusakan yang dapat merugikan lingkungan disekitarnya.
3. Bisnis syariah juga harus berdasarkan pada kejujuran, sehingga pihak yang terlibat tidak perlu khawatir terkena tipu atau dikhianati.
4. Bisnis syariah memiliki sifat amanah, sehingga semua kewajiban dan tanggung jawab dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
5. Bisnis syariah tidak mengenal sikap atau tindakan yang spekulatif dan manipulatif.Artinya berdasarkan pada kenyataan yang ada dan ralitis.
6. Bisnis syariah bersifat hasanah yaitu dengan melakukan kegiatan kebaikan, sehingga tidak melakukan praktek sogok-menyogok/suap, kolusi, unfair competition, monopoli dan lain-lain.
7. Bisnis syariah harus mempunyai tanggungjawab sosial (social responsibility), maksudnya dalam mendapatkan keuntungan yang diperoleh tidak seluruhnya menjadi hak pengusaha tetapi juga termasuk dalam hak bagi orang lain yang harus dikeluarkan dalam bentuk zakat, infaq dan sadaqah.
Pemasaran usaha syariah sudah teruji kekuataan atau ketangguhannya dalam persaingan sistem perekonomian global. Salah satu contoh, pada saat hampir semua bisnis yang bersifat konvensional mengalami kesulitan dan pada saat krisis melanda beberapa negara termasuk Indonesia, ternyata kondisi itu tidak terjadi di Malaysia yang lebih dahulu menerapkan prinsip ekonomi syariah. Dengan demikian, konsep yang selama ini melandasi bisnis modern, baik ekonomi kapitalis maupun sosialis, ternyata hanya menghasilkan kemakmuran semu.
Menurut World Bank dan IMF yang telah mengkaji kemungkinan pemberian berupa pinjaman modal dengan menggunakan prinsip syariah setelah dianggap gagal dalam memulihkan perekonomian di negara-negara berkembang yang umumnya negara Islam. Dengan adanya hal tersebut membuktikan bahwa ekonomi dengan sistem syariah tidak hanya baik karena prinsip moralnya, tetapi juga baik dari segi pendekatan bisnis itu sendiri. Hal lain yang menjadi pertimbangan lain dalam merencanakan bisnis yang berbasis syariah harus berdasarkan pada suatu kenyataan bahwa semakin mengkristalnya dikotomi antara bisnis dan moral karena sangat berkaitan dengan prinsip ekonomi global yang berdasarkan pada paham kapitalis-liberal yang berarti paham ini melihat kebutuhan manusia dari aspek fisik, sehingga bisnis menjadi sangat pragmatis, individualis, dan eksploitatif.
Salah satu upaya dalam menata kembali perekonomian nasional, yakni dalam melakukan aktivitas atau kegiatannya terlebih dahulu mengupayakan penerapan konsep bisnis dan pemasaran usaha dengan menempatkan UMKMK sebagai pelaku utamanya. Misalnya dengan melaksanakan konsep bisnis dan pemasaran usaha syariah dalam lingkup UMKMK, diharapkan akan mampu membangkitkan kembali perekonomian nasional. Setelah sektor perbankan sukses menerapkan konsep syariah yang dimotori oleh Bank Muamalat Indonesia (BMI), saat ini konsep tersebut sudah merambah ke sektor ekonomi lainnya seperti asuransi, pasar modal, obligasi, reksadana, pegadaian, modal ventura, dan pasar uang. Tidak tertutup kemungkinan konsep syariah juga akan mewarnai bisnis di sektor riil, termasuk kalangan pelaku Usaha Mikro, Kecil, Menengah, dan Koperasi (UMKMK).
Hal tersebut dikarenakan berdasarkan pada beberapa pertimbangan antara lain yaitu :
1. Adanya keberhasilan di sektor-sektor ekonomi lainnya yang terlebih dahulu berdasarkan pada hukum syariat, seperti sektor perbankan dan asuransi.
2. Keadaan sosiokultural masyarakat di Indonesia yang mayoritas adalah beragama Islam, dan merupakan masyarakat muslim terbesar di dunia.
3. Etika bisnis yang berdasarkan pada prinsip moralitas yang memberikan aturan dan petunjuk yang nyata dan benar bagi manusia untuk berprilaku baik dan menghindari perilaku yang dianggap menyimpang.
4. Adanya etika dan moral yang dianggap penting dalam interaksi kegiatan bisnis dan pemasaran usaha yang termasuk kedalam bisnis global.
5. Adanya kemungkinan penyelesaian atas sengketa bisnis dan dalam kegiatan pemasaran usaha dengan menggunakan prinsip-prinsip atau hokum yang sesuai syariah, yakni melalui BAMUI (Badan Arbitrase Muamalat Indonesia).
Konsekuensi bisnis yang dihadapi adalah munculnya kelompok-kelompok yang kaya dan kuat disatu pihak dan kelompok-kelompok yang lemah dilain pihak. Dalam konteks antar-negara, terdapat kelompok negara-negara kaya yaitu industri maju atau dikenal sebagai kelompok G-7 dan kelompok negara-negara miskin yaitu kelompok negara-negara berkembang atau biasa disebut dengan kelompok selatan-selatan. Dalam dunia bisnis muncul perusahaan-perusahaan multinasional (multinational corporation) yang berkantor pusat di negara kuat atau maju tetapi kegiatan usahanya menggurita ke negara-negara miskin. Selain itu, badan-badan dunia seperti PBB, IMF, dan World Bank, yang kesemuanya bertujuan untuk melanggengkan eksploitasi negara-negara kuat atau maju kepada negara-negara miskin.
Dengan demikian diharapkan adanya penerapan terhadap prinsip pemasaran usaha yang berdasarkan pada ketentuan syariah sebagai upaya penguatan ekonomi kerakyatan, akan mampu memperkokoh perekonomian baik nasional maupun perekonomian global dimana UMKMK sebagai pondasi utamanya. Selain itu kesenjangan ekonomi bisa dipersempit, sehingga energi untuk menangani konflik-konflik horizontal bisa dimanfaatkan untuk kepentingan pembangunan.

Tugas Pemasaran Usaha Syariah

Nama : Putri Juniarti
Kelas : 2 DD 03
NPM : 30208972

PEMASARAN USAHA SYARIAH

Prinsip-prinsip syari’ah harus dipasarkan secara strategis agar semakin bisa diterima oleh semua kalangan, bukan hanya kalangan muslim saja tetapi juga non muslim. Yang paling penting dilakukan adalah mengkomunikasikan syari’ah marketing ini sebagai sebuah model bisnis yang kemudian menerapkan taktik komunikasi yang lebih akrab untuk target market.
Faktor yang paling utama tentunya karena masyarakat Indonesia mayoritas beragama islam. Seseorang pada dasarnya tentu akan berupaya dengan sepenuh hati dalam menjalankan apa-apa yang diyakininya. Faktor lainnya adalah karena memang bisnis syari’ah ini oleh sebagian orang dianggap lebih menguntungkan dibandingkan dengan bisnis non-syari’ah. Seperti dalam dunia perbankan, adanya suku bunga simpanan yang rendah menjadi kurang menarik bagi nasabah. Sementara itu, suku bunga kredit lebih dianggap terlalu tinggi. Oleh karena itu banyak nasabah lebih memilih untuk melakukan bisnis dengan konsep perbankan syariah yang memiliki sistem bagi hasil yang dianggap lebih menguntungkan dan adil.
Ada dua alasan yang sebenarnya juga bisa dianggap dapat mewakili dua jenis pasar potensial bagi syari’ah yaitu pasar emosiaonal-spiritual dan pasar rasional. Pelanggan pasar emosional-spiritual adalah mayoritas beragama islam atau kaum muslim,dikarenakan memiliki keyakinan yang sudah sangat dalam dan bahkan cenderung bersifat fanatik dan mereka lebih memilih pada pasar syari’ah. Hal ini bisa dikatakan sebagai captive market untuk pasar syari’ah, yang dimaksud captive market adalah pasar dimana para konsumen potensial menghadapi jumlah yang sangat terbatas kompetitif pemasok. Ada satu pilihan untuk membeli apa yang tersedia atau untuk tidak membuat pembelian sama sekali. Pasar captive mengakibatkan harga yang lebih tinggi dan kurang keragaman bagi konsumen. Oleh karena itu, istilah ini berlaku untuk setiap pasar di mana ada kegiatan yang bersifat monopoli atau oligopoli. Sementara pasar rasional merupakan pasar yang lebih menekankan pada pertimbangan rasional, mereka akan memilih syari’ah jika dianggap lebih menguntungkan secara finansial. Pasar rasional inilah yang mungkin belum tergarap dengan baik. Mereka masih enggan berbisnis secara syari’ah karena mereka menganggap bisnis syari’ah ini identik dengan agama islam. Jadi, pasar syari’ah dianggap pasar yang “tertutup”untuk kalangan non muslim, yang pada dasarnya pasar syari’ah terbuka untuk siapapun. Padahal sistem bagi hasil merupakan salah satu elemen penting dari pasar syari’ah sudah sejak lama diterapkan dinegara-negara eropa, terutama inggris.
Banyak yang mungkin tidak tahu, inti dari prinsip syari’ah itu sebenarnya sangat universal, yaitu kebaikan dan keadilan bagi semua orang. Yang paling penting harus dilakukan adalah mengkomunikasikan syari’ah marketing ini sebagai sebuah model bisnis. Analisis bisa dilakukan dengan menggunakan tools yang biasa digunakan untuk membedah konsep bisnis lainnya, dengan demikian pasar yang rasional akan bisa menerima alas an-alasan logis dibalik penerapan syari’ah marketing. Secara lebih taktis, komunikasi yang dilakukan juga harus sebisa mungkin menggunakan bahasa-bahasa yang mudah dipahami oleh target market.
Perusahaan yang menerapkan syari’ah marketing juga bisa menerima karyawan-karyawan yang nonmuslim. Hal ini perlu dilakukan untuk menepis dan mengikis persepsi bahwa syari’ah marketing ini hanya milik umat muslim, semakin banyak orang dari berbagai kalangan terlibat, baik sebagai karyawan ataupun pelanggan, akan semakin baik bagi perkembangan syari’ah marketing tersebut. Perusahaan-perusahaan yang mampu melihat peluang pasar syari’ah diindonesiainilah yang akan mampu memperoleh keuntungan ditengah riuhnya kompetitif dalam dunia usaha.
Pada level emosional, kemampuan pemasar dalam memahami emosi dan perasaan pelanggan merupakan hal yang paling penting. Pada keadan ini, pelanggan dapat dilihat sebagai manusia yang seutuhnya dan lengkap dengan emosi dan perasaannya. Pada level intelektual, kemampuan pemasar yang paling berperan, jika di level emosional, emosi dan perasaan yang lebih dominan. Jika di level emosional pemasaran dianggap seperti sebuah robot yang digunakan untuk mencetak penjualan. Sedangkan di level emosional pemasaran menjadi seperti manusia yang berperasaan dan empatik. Pemasar menempatkan konsumen sebagai subjek dan tidak hanya sebagai objek pembeli produk perusahaan, sehingga kebutuhan konsumen akan didengarkan dan berusahan untuk diwujudkan. Beberapa konsep pemasaran yang ada pada level emosional antara lain experimental marketing dan emotional branding.
Dalam level spiritual, pemasaran sudah dipahami sebagai pikiran dan panggilan jiwa. Proses pemasaran ditentukan kembali berdasarkan fungsinya yang bersifat hakiki dan dilakukan dengan moralitas. Prinsip-prinsip yang digunakan yaitu kejujuran, empati, cinta dan kepedulian terhadap sesama menjadi dominan. Jika di level intelektual bahasa yang digunakan adalah "bahasa logika" dan di level emosional adalah "bahasa rasa", maka lainnya di level spiritual, pada level ini yang digunakan adalah "bahasa hati". Spiritual marketing merupakan tingkatan tertingi, dalam hal ini orang tidak hanya menghitung tentang untung atau rugi yang akan didapatnya, karena bagi mereka hal tersebut tidak membuat mereka terpengaruh lagi akan hal-hal yang bersifat duniawi. Panggilan jiwalah yang mendorongnya karena di dalamnya mengandung nilai-nilai spiritual. Dalam bahasa syariah spiritual marketing adalah tingkatan "pemasaran langit", karena di dalam keseluruhan prosesnya tidak ada yang bertentangan dengan prinsip dan aturan syariat. Setiap langkah, aktivitas dan kegiatannya akan selalu seiring dengan hati nurani, dan tidak akan ada lagi hal-hal yang berlawanan dengan hati nurani.
Selain itu dalam syariah marketing, bisnis yang disertai dengan keikhlasan yang semata-mata hanya untuk mencari keridhaan Allah, maka seluruh bentuk transaksinya insya Allah menjadi ibadah di hadapan Allah SWT. Ini akan menjadi pedoman dan modal dasar baginya untuk tumbuh menjadi bisnis yang besar, yang memiliki spiritual brand, yang memiliki kharisma, keunggulan, dan keunikan yang tak tertandingi. Dalam spiritual marketing, hal-hal yang sekiranya dapat merugikan konsumen akan berusaha untuk dihindarkan.
Kejutan besar dilakukan Stephen R Covey dimana dia telah menerbitkan buku baru yang menambahkan dari "The 7 Habit of Highly Effective People" menjadi "The 8th Habit: From Effectiveness to Greatness. Covey akhirnya berkesimpulan bahwa faktor spiritual merupakan faktor kunci terakhir yang harus dimiliki seorang pemimpin dalam suatu perusahaan, ia menyebutnya dengan "Voice". Seorang pemimpin harus memiliki empat style, "The 4 Roles of Leadership" yaitu "Pathfinding (perintisan),
Aligning (penyelerasan), Empowering (pemberdayaan), dan Modeling (panutan). Pada bagian akhir inilah Covey kemudian menyadari bahwa untuk menjadi seorang pemimpin yang bisa menjadi panutan, seorang pemimpin haruslah memimpin berdasarkan pada prinsip yang telah ditentukan. Pemimpin harus mampu menyatukan apa yang diucapkan dengan perbuatan dan pemimpin adalah seseorang yang layak dipercaya. Kata kunci untuk semua ini adalah kejujuran yang senantiasa menjadi bagian dari nilai-nilai spiritual.
Dalam pemasaran usaha syariah terutama ketika melakukan bisnis secara profesional dengan nilai-nilai yang menjadi landasan:

1. Memiliki kepribadian spritual
Yaitu seorang pemasar syariah diharuskan untuk selalu mengingat kepada Allah Swt walaupun pada saat sedang sibuk dalam melakukan kegiatan pemasarannya.

2. Berperilaku baik dan simpatik
Yaitu seorang pemasar syariah harus selalu memberikan tampilan dengan berwajah manis, berperilaku baik, simpatik dan rendah hati dalam menciptakan suatu nilai pelanggan unggul.

3. Berlaku adil
Dalam melakukan kegiatan pemasaran produk harus berlaku adil dikarenakan Allah Swt mencintai orang-orang yang berbuat adil membenci orang-orang yang berbuat zalim.

4. Melayani pelanggan dengan senyum dan rendah hati
Yaitu dengan sikap melayani adalah sikap utama seorang pemasar syariah.

5. Menepati janji dan tidak berprilaku curang
Yaitu seorang pemasar syariah harus dapat menjaga amanah dan kepercayaan yang diberikan kepadanya sebagai wakil dari perusahaan dalam memasarkan dan mempromosikan produk kepada pelanggan.

6. Jujur dan terpercaya
Yaitu seorang pemasar syariah haruslah dapat dipercaya dalam memegang amanah

7. Tidak suka berburuk sangka
Dalam ajaran agama Islam yakni mengajarkan kepada kita untuk saling menghormati satu sama lain dalam melakukan aktifitas pemasaran.

8. Tidak menjelek-jelekkan
Yaitu seorang pemasar syariah dilarang ghibah atau menjelek-jelekkan pesaing bisnis lain karena ghibah merupakan sifat yang tidak baik yaitu adanya keinginan untuk menghancurkan orang, menodai harga diri, kemuliaan dan kehormatan orang lain.

9. Tidak melakukan suap-menyuap
Yaitu dikenal dengan istilah menyogok dalam perspektif syariah hukumnya haram dan termasuk dalam kategori memakan harta/ mengambil hak milik orang lain

Rabu, 30 September 2009

akhirnya jadi juga buat blog!